Hari ini.
Seseorang mencoba pulih dari matinya.
Seseorang mencoba menulis rebah hatinya.
Em, tepatnya mengetik.
Dia memandang suasana sekejap.
Dia lihat seseorang tertidur melepas lelah.
"Sama, aku juga lelah." Ucapnya sedikit egois. Tapi dia juga tahu bahwa lelahnya tak sebanding. Meskipun dia juga tahu lagi bahwa beban ditanggung sesuai kemampuan.
Pertanyaan muncul lagi, "Aku egois begini, dibilang kurang egosentris?" Kurang jahat apalagi dia.
Dia membunuh beberapa hati.
Dalam keadaan dia juga mati.
"Hukum qisas, kan?" Dia berdalih hanya membalas apa yang harus dibalas. Padahal teringat juga olehnya bahwa ada Pembalas Terbaik.
Tapi lagi-lagi dia juga merasa kasihan. Entah kasihan pada pembunuhnya atau dirinya.
Apa dia terlalu welas asih seperti kata temannya?
"Menurut lo gw orangnya gimana?"
"Murah senyum, welas asih."
Ya, dia baru tahu bahwa senyumnya murah.
Oke, simpul positif saja bahwa sedekahnya mudah.
Dan dia sadar lagi kalau bahasannya sudah kemana-mana. Tapi dia juga ingin menegaskan, alias juga eksistensi diri, bahwasanya beginilah cara berpikirnya.
Kembali.
Maksud awalnya, kembali ke topik. Namun dia juga loncat intuisinya ke soal kembali pulang ke tempat pulang.
Tiba-tiba dia teringat mati.
Oh, ya, juga. Dia kan sudah berkali-kali mati. Apa dia benar-benar takut? Bisa dibilang jujurnya, dia tak setakut itu pada maut.
Tapi ngeri-ngeri juga kalau karena tulisan ini mautnya malah semakin mendekat.
Ya, tak ditulis seperti ini sejatinya juga mautnya memang mendekat. Entah dekat dalam ukurannya siapa.
Sekali lagi dia ngalor ngedol.
Tadinya mau bicara tentang mati. Dan hampir saja dia membahas tentang bicara.
Entahlah, setiap kata terketik, dia masuk ke dalamnya dan mencari-cari kilat memori dengan kata itu sebanyak mungkin. Tepatnya tidak sengaja.
Dia bertanya apakah pancaran cerita seperti ini beralur? Atau memang beralur, tapi berbelok-belok seperti membuat jaring laba-laba yang bengkok.
Oke. Dia mulai lelah.
Awalnya dia ingin bercerita bagaimana dia menjalani hidup dan matinya dan hidupnya.
Tapi dia kebelet pipis. Pause dulu. Semoga aja hpnya tak keburu mati terkunci sleep.
Hufff. Untung dia cepat dalam hal membuang.
Membuang air maksudnya.
•••
Begini.
Beberapa hari ini dia mati. Dia juga lupa apakah sebelumnya dia hidup, tapi sepertinya matinya baru benar-benar terasa.
Dia pun lupa apa sebenarnya penyebab kematiannya. Apakah pedang yang dimiliki semua manusia?
Dia, dan mungkin kamu, ups, bukan mungkin, tapi tentunya, adalah korban pembunuhan dengan pedang-pedang itu.
Seingatnya, waktu lalu prinsipnya digoyah. Sebentar, bukan digoyah. Melainkan disalahpahami, disoktahui.
Lagian kenapa juga menyimpan prinsip sendiri? Pernah nggak mencoba mengekstro perasaannya, prinsipnya, atau nilai-nilainya?
Saya pikir itu gagasan yang bagus. Agar setidaknya orang mengerti apa maunya.
Meskipun dia tahu tak semua orang mengerti. Tapi yasudahlah. Terkadang dia juga sering malas bicara. Sebahagia dan setenangmu, ya, sayang.
Kenapa saya mendadak romantis?
•••
Selama kematiannya itu, dia menyadari bahwa dia punya banyak trauma menyakitkan.
Sebelumnya dia menolak itu.
Sakit untuk tahu bahwa dia sungguh trauma.
Dia sedih, dan biarkan saya berkata menemaninya sebentar disini.
♦♦♦
Halo, Azma Tsabita Azzahra.
Namamu bagus, saya selalu suka mengingat artinya. Seperti kamu.
Saya berani mengobrol karena melihat dan merasa kamu sedang pemulihan.
Sudah siap hidup lagi?
Kalau ditanya begitu kamu berwajah tak sedap. Indomie, mungkin?
Baik, jika belum. Saya dan kamu yakin bahwa belum berarti akan sudah, bukan? Baik. Sangat baiklah. Mengindonesiakan ok, maksudnya.
Nikmati matimu, ma.
Oh, dia selalu senang saat dipanggil ma. Dia merasa ditinggikan, atau lebih enaknya, dihormati.
Ma adalah panggilan terenaknya. Padahal jika teringat, bahwa Ma adalah panggilan dari banyak orang, dia resek juga.
♦♦♦
Saya sebenarnya juga tak yakin untuk menyemangatinya dengan "gapapa sekarang mati, nanti pasti hidup lagi."
Itu tidak mempan lagi baginya. Dia ingin mati terus. Ya, gimana? Maunya begitu.
Perbaikan, dia ternyata bukan ingin mati terus. Dia juga khawatir begitu. Tepat setepat-tepatnya, dia ingin mati dulu.
Saya mendukungnya. Dukungan selalu terbaik dari dirinya bagi dirinya. Saya cukup tak acuh pada penghakiman diluar dirinya tentang itu.
Dia bahagia dalam mati.
Komentar
Posting Komentar