Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

MALAM SAHABAT

Malam ini malam ajaib. Masya الله ngga ada daya dan kekuatan kecuali dengan الله♥️ Padahal sepanjang hari bener-bener berjuang dan sabar, ternyata الله punya balesan ini. Dia nyampein kasihNya dengan kasih sahabat-sahabat nya azma.  Alhamdu الله aku bahagia, bener-bener bahagia. Rasanya ga ada alasan lain lagi buat aku menderita dan sedih terlalu, Karena ternyata justru aku punya beribu jutaan alasan untuk bahagia. Aku ada mereka. Aku ada kamu. Aku ada aku. Aku ada الله. ❤️

Iya, Sip

Iya. Entah. Ngga tau juga jadinya. Tadinya cuma pengen bilang, saya sayang kamu. Dibilang belom move on, ngga juga.  Aduh. Ya Allah. Aku ngeluh ga sih ini? Aku cuma gemes. Ga gitu juga si. Cuma pengen bilanggg. Tapi satu sisi mau dipastiin juga. Boleh sekalian? [14/12 00.06] F: Nabil [14/12 00.07] Bilbotaqs: Kenapa [14/12 00.08] F: Mau bilang gw sayang lo [14/12 00.08] F: Gitu aja [14/12 00.09] Bilbotaqs: Hmm Masi blm bisa move on nih ceritanya [14/12 00.09] F: Iya [14/12 00.09] F: Eh ga juga [14/12 00.11] F: Padahal gw rasa jelas Lo ga gimana gimana [14/12 00.14] Bilbotaqs: Ga gimana² mksdnya [14/12 00.19] F: Gampangnya kek lumayan jelas kalo lo udh ga ke gw [14/12 00.23] F: Coba tolong benerin bil [14/12 00.27] F: Pastiin kalo lo nolak gw [14/12 00.29] Bilbotaqs: Gimana si bingung sumpa [14/12 00.31] F: Maafff [14/12 00.31] F: Malem rada ngeblank [14/12 00.32] F: Jadi begini [14/12 00.32] Bilbotaqs: Iya gmna [14/12 00.32] F: Tadinya gw cuma mau bilang ini doang [14/12 00.32] F: T...

Dia Bahagia Dalam Mati

Hari ini. Seseorang mencoba pulih dari matinya.  Seseorang mencoba menulis rebah hatinya. Em, tepatnya mengetik. Dia memandang suasana sekejap. Dia lihat seseorang tertidur melepas lelah. "Sama, aku juga lelah." Ucapnya sedikit egois. Tapi dia juga tahu bahwa lelahnya tak sebanding. Meskipun dia juga tahu lagi bahwa beban ditanggung sesuai kemampuan. Pertanyaan muncul lagi, "Aku egois begini, dibilang kurang egosentris?" Kurang jahat apalagi dia.  Dia membunuh beberapa hati. Dalam keadaan dia juga mati. "Hukum qisas, kan?" Dia berdalih hanya membalas apa yang harus dibalas. Padahal teringat juga olehnya bahwa ada Pembalas Terbaik. Tapi lagi-lagi dia juga merasa kasihan. Entah kasihan pada pembunuhnya atau dirinya.  Apa dia terlalu welas asih seperti kata temannya?  "Menurut lo gw orangnya gimana?" "Murah senyum, welas asih." Ya, dia baru tahu bahwa senyumnya murah.  Oke, simpul positif saja bahwa sedekahnya mudah. Dan dia sadar lagi kal...